
Inovasi merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan ekonomi dan daya saing daerah. Terjadinya pergeseran ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis pengetahuan menunjukkan bahwa pengetahuan dan inovasi merupakan faktor yang semakin menentukan dalam kemajuan ekonomi. Bappedalitbang Kabupaten Bogor merespons melalui kegiatan Duta Inovasi Desa dalam rangka meningkatkan inovasi daerah Kabupaten Bogor.
Kegiatan Duta Inovasi Desa merupakan kegiatan yang mendukung Program Panca Karsa dan diharapkan dapat memenuhi sasaran Satu Desa Satu Inovasi (One Village One Innovation). Mahasiswa penerima Beasiswa Panca Karsa Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor menjadi Duta Inovasi Desa yang menggali, menemukan dan mengembangkan inovasi desa.
Duta Inovasi Desa UNIDA Bogor yang melakukan pengabdian di Desa Jogjogan Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor adalah Dina Marlina, Mutiara Qurota Ayun, Eklefina Ngilamele, Bintang Badriansyah Hardi, Inna Rotul Huda, dan Ahmad Riswan Sulaeman. Duta Inovasi Desa ini mengembangkan inovasi desa berbasis potensi yang ada di Desa Jogjogan. Pengembangan inovasi desa tersebut difasilitasi oleh Dosen Pendamping Inovasi Desa Drs. Gotfridus Goris Seran, M.Si dan Berry Sastrawan, S.Sos, M.AP.
Dalam sambutan pelaksanaan kegiatan Bimbingan Teknis Inovasi Desa Jogjogan di Aula Desa Jogjogan (Sabtu, 12/3/2022), Kepala Desa Jogjogan, H. Enjang Ruslan Purnama, SH, mengatakan bahwa inovasi desa yang dikembangkan bertolak dari potensi yang ada di Desa Jogjogan. Potensi dimaksud salah satunya adalah makanan-makanan tradisional (traditional foods). Makanan-makanan tradisional seperti enye-enye, ranginang, rangining, dapros, kutu mayang, dan lain-lain dapat dibuatkan inovasi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Saat memberikan sambutan pada kegiatan bimbingan teknis tersebut, Ketua TP PKK Desa Jogjogan, Hj. Neneng Aliah, menyambut baik inovasi desa yang ditujukan untuk mengembangkan makanan-makanan tradisional di Desa Jogjogan. Ujung tombak pembuatan makanan-makanan tradisional tersebut adalah ibu-ibu di desa, sehingga TP PKK berusaha menggerakkan ibu-ibu di desa untuk mengembangkan inovasi desa yang bersumber dari makanan-makanan tradisional.

Dosen Pendamping Inovasi Desa, Drs. Gotfridus Goris Seran, M.Si, mengatakan bahwa setelah melakukan identifikasi dan inventarisasi terhadap jenis-jenis makanan tradisional yang ada di Desa Jogjogan, maka pilihan jatuh pada enye-enye yang dapat dikembangkan sebagai inovasi desa. Ada dua alasan yang melatarinya. Pertama, singkong sebagai bahan dasar mudah diusahakan dan mudah didapatkan. Kedua, kapasitas dan pengetahuan dasar pembuatan enye-enye sudah dipunyai masyarakat, dalam hal ini ibu-ibu di desa.
Lebih lanjut, Seran, yang juga Dosen FISIP UNIDA Bogor, menuturkan bahwa dengan memperhatikan potensi lokal untuk mengembangkan enye-enye sebagai inovasi desa, maka inovasi Desa Jogjogan diberi nama Jogjogan Chips (EnyeMilanKu).
Enye-enye diperbaharui (kebaruan/novelty) dalam tujuh aspek. Enam aspek terkait produk, yaitu: (1) jenis (kind), biasanya berukuran bulat besar dibuat dalam bentuk cemilan potongan-potongan kecil dan tipis (chips), (2) bentuk (form), biasanya berbentuk bulat besar dibuat dalam bentuk bulat-kecil, persegi empat, persegi panjang, dan segitiga (bentuk-bentuk yang mudah dibuatkan), (3) ukuran (size), biasanya berukuran bulat besar dibuat menjadi ukuran kecil dan tipis, (4) tampilan permukaan (texture), tampilan permukaan rata dan bercorak, (5) rasa (taste), rasa gurih/original dikembangkan menjadi rasa asin, pedas, dan manis, (6) kemasan (package), diberi kemasan aluminium foil dan plastik. Sedangkan satu aspek terkait nonproduk, yaitu mind set/culture set, yang berhubungan dengan perubahan pola pikir dan budaya masyarakat desa. Enye-enye yang dibuat untuk kebutuhan subsisten sehari-hari diproduksi menjadi Jogjogan Chips (EnyeMilanKu) sebagai usaha ekonomi produktif untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat desa (karenanya pada kemasan dicantumkan komposisi bahan, kadar gizi, berat isi, harga, eco-go-green, halal, dan kedaluarsa).
Kepala Desa Jogjogan, H. Enjang Ruslan Purnama, SH, menandaskan bahwa pengembangan inovasi desa tentunya menuntut hadirnya etos kerja yang kuat dari masyarakat desa dan didukung dengan komitmen dan kebijakan. Di samping itu, pengembangan inovasi desa juga membutuhkan kolaborasi yang strategis antara pemerintah desa, masyarakat desa, dan UNIDA Bogor. Dengan kolaborasi strategis tersebut, inovasi desa dapat direalisasikan dan tentunya ditujukan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakat desa.







