Kolom  

Kapan Terakhir ke Pasar?

 

Catatan Jurnalistik Hendry Ch Bangun

 

Menjadi wartawan Kompas di masa kejayaan media cetak, luar biasa membanggakan walaupun terkadang bikin perasaan tidak enak. Dianggap media besar dan berpengaruh, kehadiran kita dalam suatu acara menjadi penting. Sering bila pejabat datang, yang ditanya apakah wakil Kompas sudah datang. Kadang-kadang kalau belum muncul, acara ditunda sejenak. Meskipun sudah ada belasan atau puluhan reporter telah berada di lokasi.

Maka saya selalu tiba di acara minus 15 menit atau bahkan setengah jam, sesuai perintah atasan di kantor dan saya ajarkan juga kepada calon reporter atau reporter baru saat menjadi mentor di Kompas maupun pimpinan di Warta Kota. Datang duluan membuat wartawan bisa menguasai medan, mendapat insight dari staf, memahami konteks acara, dan mengetahui apa dan siapa si narasumber. Termasuk jalan darurat kalau ada kebakaran.

Mungkin karena saya sebelumnya bekerja di Majalah Sportif, sebagian penugasan saya di bidang olahraga, dengan puncaknya menjadi Redaktur Olahraga. Mencari berita tinggal jalan kaki saja ke Kawasan Senayan, yang dulu full urusan olahraga. Yang kini Plaza Senayan dulu adalah perkampungan atlet eks Asian Games, dengan nama jalan Tokyo, Manila, Judo, dsb. Termasuk yang yang sekarang menjadi Hotel Fairmont dan Apartemen Plaza Senayan, Best Western, STC, dst. Kalau meliput ke sana, kadang jalan kaki, kadang pula naik sepeda motor.

Sebab perkampungan atlet masih menjadi tempat atlet pelatnas ditempatkan, yang belakangan ditempatkan di Century Park Hotel, yang kini menjadi Artotel Gelora Senayan. Wawancara bisa sambil duduk-duduk di halaman atau rumput depan rumah, bisa sambil memesan bakso. Suasana santai walau tetap saja agak panas. Selain pelatih balap sepeda, atletik, saya pun pernah wawancapa Verawaty Fajrin yang tinggal di sana bersama keluarga. Pernah menjadi juara dunia, Verawaty belakangan bermain ganda bersama Yanti Kusmiati.

Saya pun meliput pelatnas di atletik Pangalengan, balap sepeda di Subang, dayung di waduk Jatiluhur, untuk mendapatkan suasana fisik dan kebatinan para atlet dan berbincang sepuas hati dengan para pelatih. Biasanya saya usahakan menginap agar hubungan lebih dekat dan personal.

Sekretariat PB PBSI dulu di Gedung Bulutangkis sekarang, sementara PASI di Stadion Madya, PRSI di Kompleks Renang, dan PB ISSI di Kawasan Gelora. Belakangan pelatnas bulu tangkis dan PB PBSI pindah ke Cipayung, Jakarta Timur, maka untuk menyaksikan latihan, wawancara, perlu effort khusus, kadang bisa satu jam kalau berangkat dari Senayan. Tapi sekali jalan bisa dapat 2-3 berita. Tergantung kreativitas.

Menjadi wartawan bulutangkis membuat saya sering melanglangbuana. Meliput kejuaraan yang berurutan seperti Denmark atau Swedia Terbuka, Perancis Terbuka, All England. Atau Hongkong Open, Taipei Open, dan Jepang Terbuka. Atau Thailand, Singapura, Malaysia dan atau Indonesia Terbuka. Rangkaian ini membuat efektif bagi media, tetapi melelahkan bagi pemain dan pelatih, karena waktu itu jarang ada pergantian susunan pemain yang berangkat.

Menjadi wartawan balap sepeda pernah membuat saya meliput Kejuaraan Asia di Teheran, kejuaraan renang di Filipina, dan ditugaskan meliput bukan bidang seperti US Open dan Australia Open di cabang tenis, sesi latihan motoGP di Sepang, Assen di Belanda, dan Jerez de la Frontera di Spanyol dan sepak bola Piala Raja di Bangkok. Dan tentu saja multi evet seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. ***

Ikut merintis dan mendirikan Harian Warta Kota bersama sejumlah wartawan Kompas, Grup majalah, dan Persda (sekarang Tribunnews), saya meninggalkan gegap gempita sebagai wartawan nasional dengan liputan internasional sekaligus. Saya memang meminta sendiri ke Pak Jakob Oetama agar gabung dengan tim baru, karena merasa tidak puas cukup menjadi sekrup di mesin Kompas yang besar dan hebat. Saya bangga karena beliau dalam beberapa kesempatan menyebut nama saya sebagai contoh, wartawan yang tidak mau hanya numpang tenar via Kompas. Mau capek kembali merintis. Terjun ke lapangan, bermain ke kantor kelurahan, kecamatan, balaikota, bahkan ke pasar-pasar.

Teringat mendiang ayah saya yang tugas pertamanya ketika menjadi wartawan Harian Waspada di Rantau Parapat, Sumut, bulai Mei tahun 1953. Dia tidak pernah lupa ke pasar, kebetulan beliau tinggal dekat Pekan Lama, untuk sarapan teh manis, ketat, dan pisang goreng sebelum memulai aktifitas liputan. Dan tentu saja kesempatan itu digunakan untuk membuat catatan guna mendapat gambaran harga-harga kebutuhan masyarakat.

“Kalau disuruh atasan tanya harga cabai, jangan berhenti di situ. Tanya semua harga tomat, bawang, sayur-mayur, termasuk beras. Supaya nanti tidak disuruh balik lagi,” katanya suatu ketika mengenang penugasan awal di perantuan, saat itu dia masih berusia 20 tahun.

Singkat cerita meskipun Warta Kota harus berjuang, berdarah-darah, bakar uang sekitar 4 tahun, di masa jayanya koran ini menjadi nomer satu di Jabodetabek, dengan pelanggan terbesar di wilayah Selatan sampai Depok dan Bogor. Dengan oplag terbesar pernah menembus di atas 500.000 eksemplar di tahun 2006 dan 2006 (kata orang karena harganya Rp 1.000), perjuangan dari titik nol membuat Warta Kota dua kali merebut penghargaan dari grup sebagai Perusahaan Kecil Terbaik KG dengan hadiah tunai Rp 75 dan Rp 100 juta.

Kepercayaan masyarakat itu pula yang membuat Warta Kota menjadi koran kota pertama yang dipasangi iklan oleh perusahaan eceran asing yakni Giant. Kemudian disusul oleh Carrefour dan Hypermart. Sebab meski sebagian besar pembacanya golongan C+ tetapi pembaca setianya mayoritas ibu rumah tangga yang suka belanja di toko serba ada. Ya, kami memang bikin survei rutin setiap tahun untuk mengetahui Status Ekonomi Sosial pembaca. Tahu apa yang mereka mau dan inginkan, dan liputan disesuaikan. ***

Bagi saya sendiri masuk ke Warta Kota memberi pengalaman berharga. Dari semula datang dan disambut, kini ketika mengetok pintu narasumber harus menjelaskan dulu sosok koran yang kami kelola. Apa dan bagaimananya. Banyak ditolak. Bahkan diberi peluang untuk iklan gratis pun ada yang tidak mau. Maklum waktu itu sudah ada Pos Kota yang ngetop dan menjadi nomer satu. Belakangan muncul pula Berita Kota. Maka strategi diferensiasi menjadi kunci. Termasuk intensitas terjun ke lapangan yang becek. Perlu waktu untuk belajar, namun rasanya puas karena perjuangan berhasil dan sampai kini edisi cetaknya masih eksis sedang kompetitor sudah beralih platform online.

Berkantor di Kawasan Kota, berbagai fitur menarik dan historis yang selama ini dilupakan, kami gali untuk diberitakan. Kami buat serial nama-nama asal Kawasan di Pecinan. Soal tempat yang disebut Petak Sembilan, Pecah Kulit, Luar Batang, Jembatan Kota Intan, Benteng Jakarta, Pintu Besar, dst. Juga soal SBKRI yang luar biasa rumit diurus dan kadang menjadi ladang pungli, bagi warta keturunan Tionghoa. Perlakuan tidak adil bagi warga yang sudah sejak ayah-ibunya lahir di Jakarta namun sulit mendapatkan status WNI, dsb. Juga soal lahan pekuburan semakin sempit sehingga Pemprov atau Pemkot harus menyiapkan anggaran besar untuk perluasan, sehingga waktu itu ada wacana, jenazah akan dikuburkan berdiri untuk menghemat tempat !

Saya beberapa kali keliling naik sepeda motor untuk berbincang dengan tukang kaca di Pintu Besar, penjual perlengkapan kapal, pelukis keliling, rumah abu dan juga penjual mainan di Asemka, sepotong jalan yang pernah menjadi kantor-kantor media masa 1950an-1970an seperti Fleet Street di London. Ketika menjadi mahasiswa saya pun pernah mengambil honor tulisan di kantor Sinar Harapan di Kawasan ini yakni di jalan Ekor Kuning, sebelum mereka pindah kantor ke Jalan Dewi Sartika Jakarta Timur.

Berkeliling mencari informasi di lapangan sangat menyenangkan karena mendapat gambaran sekilas kondisi riil di tengah masyarakat. Kalau naik mikrolet saya sering mencuri dengar apa yang diperbincangkan penumpang. Ngobrol dengan pedagang di pinggir trotoar, emperan, atau tukang nasi goreng yang numpang di balik pagar kantor. Saya baru tahu waktu, mereka ini setiap bulan bayar uang jago ke orang tertentu agar tidak diganggu. Bahkan kavling-nya itu bisa dia jual kalau pindah ke lokasi lain, karena sudah punya pelanggan tetap.

Waktu kantor pindah lagi tahun 2011 ke Palmerah, saya hampir tiap hari datang ke pasar, ngobrol dengan Bu Hajjah tukang beras, tukang buah, pedagang telor, penjahit, dan tukang servis jam. Saya beberapa kali mencukur rambut di salon untuk mendengar ocehan tukang salon, yang suka bergossip kelakuan penyewa tetapi juga menceritakan betapa berkuasanya petugas pasar atas pedagang. Kadang terpaksa mengutang akibat sulit membayar iuran bulanan karena sedang “sepi”. Cerita yang menyentuh rasa kemanusiaan karena yang selalu menjadi korban adalah “wong cilik”. Ini belum tentu bisa menjadi berita karena menyangkut keamanan mereka. Cukup disimpan siapa tahu kelak bisa digunakan.

Saya juga mengamati bagaimana pasar dan lingkungannya bersih seketika ketika ada pejabat yang akan datang untuk sidak, atau sekadar lewat. Jalan Palmerah Barat mendadak bersih dan bebas dari pedagang kaki lima ketika Presiden Prabowo Subianto meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di kantor Polsek Palmerah, kebetulan waktu itu saya ada perlu ke kantor dan jalan kaki dari Stasiun Palmerah. Sesaat bersih, siangnya kembali normal. Mikrolet ngetem, pedagang menggelar sebagian dagangan di trotoar, sampah berserakan, dst.

Tentu saja ini pengalaman recehan dibanding wartawan yang ngantor di kantor nyaman seperti di Kementerian, DPR, MPR, Lembaga pemerintahan, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dengan fasilitas komputer, the, kopi, dan kadang makan siang gratis. Tetapi bagi saya dan tentu saja untuk sejarah kehidupan sebagai wartawan, sungguh ini kenangan yang memperkaya batin. Membuat saya lebih faham dunia yang kita jalani dengan aneka ragam peristiwa. Enak dan tidak enak. Dan rasanya akan bangga saya ceritakan ke cucu-cucu saya.

Wallahu a’lam bishawab.

Ciputat 31 Agustus 2026