Di Indonesia, sektor ekonomi kreatif telah berkembang pesat. Pada tahun 2015 sektor ini menyumbang Rp 852 triliun atau 7,38 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Lalu pada tahun 2016 sektor yang menaungi industri film ini pun menyumbang PDB sebesar Rp 922,58 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 13,47 persen. Tahun 2017 menyumbang Rp 990 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 17,4 persen dan sampai akhir tahun 2019 mencapai Rp 1.200 triliun, setara 8% PDB!.

Kemudian, Ketika pandemik covid 19 menerpa dunia dan Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masuk ke jurang resesi, sampai minus 3.49 di kuartal III/2020. Termasuk juga industri kreatif terutama subsector pakaian yang menjadi komponen utama fashion, dan juga kuliner pada awalnya.

Sejalan bergulirnya waktu, industri kreatif mulai bergeliat, terutama dalam subsektor film animasi video, televisi dan radio, periklanan, serta aplikasi dan game. Subsektor ekonomi kreatif tersebut masih bisa tumbuh di tengah pandemi karena kegiatan terkait dilakukan secara daring dan berbasis digital.

Selama sekitar setahun di masa mas Menteri Whisnutama, terkesan beliau lebih memberi perhatian kepada industri pariwisata. Wajar, karena industri pariwisata yang paling terpuruk sepanjang pandemi. Kebijakan pengembangan ekonomi kreatif berjalan agak lamban mengikuti gerak cepat pariwisata. Padahal, pariwisata dan ekonomi kreatif itu satu atap kementerian. Tentu, arah kebijakan dan bangkitnya industri ekonomi kreatif sangat bergantung pula dari mas Menteri.

Komisi X telah memberikan masukan dan rekomendasi yang sangat taktis dan strategis melalui Panitia Kerja (Panja) Penguatan Ekonomi Kreatif yang sudah merampungkan hasil kesimpulannya di masa sidang yang lalu. Antara lain,

  • ┬áMendesak dan memastikan Strategi Pengembangan ekonomi kreatif berbasis RPJMN 2020-2024
  • ┬áMendorong Kemenparekraf untuk melakukan sinergi dan kolaborasi dengan Kemenristek/Badan Riset Inovasi Nasional RI untuk pengembangan Startup Inovasi Indonesia.
  • Mendorong Kemenparekraf untuk mengembangkan penjenamaan (branding) produk Ekonomi Kreatif ke luar negeri dengan memperhatikan budaya dan kearifal lokal, dan merumuskan strategi pemasaran lokal, dengan menjadikan masyarakat Indonesia sebagai pasar utama produk Ekraf.
  • Mendorong Kemenparekraf untuk untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif berbasiskan nilai-nilai kearifan lokal, seperti penggalian dan pengembangan folklore, serta dongeng (storytelling), dan mendukung pengembangkan ekonomi kreatif dalam bidang agro-industri

Potensi ekonomi kreatif sangat besar. Indonesia itu ladang suburnya industri kreatif. Setidaknya ada 17 subsektor ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia yakni; arsitektur, desain interior, desain-komunikasi-visual (DKV), desain produk, fashion, film-animasi-video, fotografi periklanan, kerajinan (kriya), kuliner, musik, aplikasi, pengembangan permainan, penerbitan, periklanan, tv dan radio, seni pertunjukkan, dan seni rupa. Tiga sub sector utama tumbuh pesat yaitu kuliner, fashion dan kriya. Bahkan sangat berpotensi berjaya di pasar global. November tahun lalu, sebanyak 40 kontainer produk rotan dari beberapa pengusaha (CV) di ekspor ke Amerika Serikat (AS), Kanada, Jepang, Korea Selatan, Australia, serta negara Uni Eropa seperti Jerman, Perancis, Italia, dan Denmark.

Kini, kehadiran Bro Sandi menggantikan Mas Whisnu menanti harapan besar. Betapa tidak, selama ini, meski tidak menjadi pejabat, Bro Sandi sangat antusias dan bersemangat keliling ke berbagai pelosok daerah di Indonesia mengajak dan memberi inspirasi banyak pihak, termasuk UMKM, milenial, ibu-ibu untuk terus bekerja kreatif dan bekerja keras. Gaya bro Sandi yang akrab dan rajin turun ke bawah memberi dukungan dan inspirasi kepada para pelaku ekonomi kreatif (dan UMKM), serta modal kompetensi pengembangan dan pengalaman usaha yang mumpuni semoga dapat mempercepat pemulihan industri kreatif kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi pemain-pemain kelas dunia.

Kita berharap, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini menjadi salah satu kementerian yang menjadi lokomotif bangkitnya ekonomi Indonesia di tengah suasana Pandemi ini. Bro Sandi, Selamat Bekerja !

Dr. Fahmy Alaydroes, MM, MEd.
Anggota Komisi X DPR-RI Fraksi PKS